Penulis: Tyas Prabawati, Angkatan 51 Institut Pertanian Bogor
Sumber Gambar: https://jambi28.tv/taman-nasional-berbak-surga-rawa-gambut-di-jantung-sumatra/
Bayangkan Anda sedang berjalan di pedalaman Kalimantan atau
Sumatra. Kaki Anda terperosok ke dalam lapisan tanah serabut berwarna gelap
yang terasa empuk seperti kasur busa raksasa. Kedalaman tumpukan itu 0.5 - 4
meter, bahkan lebih.
Itulah rawa gambut, sebuah keajaiban alam Indonesia yang
sering disalahpahami sebagai sekadar kubangan lumpur yang tidak berguna.
Gambut terbentuk dari puluhan ribu tahun yang lalu dari
guguran daun, batang pohon, dan sisa vegetasi hutan. Kalau tanah biasa, sisa
tanaman akan membusuk diurai bakteri.
Sedangkan, rawa gambut mengandung genangan air yang menyebabkan
kondisi kedap oksigen. Pembusukan pun terhenti sejenak, membuat sisa tumbuhan
menumpuk perlahan membentuk endapan organik raksasa.
Rahasia terbesar rawa gambut terletak pada kemampuannya
menyerap air dalam jumlah yang amat fantastis, seperti spons dapur. Wösten et
al. (2008) menjelaskan bahwa gambut tropis memiliki porositas dan kapasitas
simpan air yang sangat tinggi, mampu menahan air hingga ratusan persen dari
bobot keringnya.
Sehingga, saat musim hujan tiba, gambut menahan banjir, dan
saat kemarau datang, ia mengalirkan air ke sungai di sekitarnya.
Namun, rawa gambut merupakan brankas penyimpan karbon
terbesar di planet bumi. Meskipun luas gambut dunia kurang dari 3 persen
permukaan bumi.
Page et al. (2011) mencatat bahwa gambut tropis menyimpan
cadangan karbon dalam jumlah yang sangat signifikan secara global dan regional.
Warren et al. (2017) memperkirakan gambut Indonesia sudah menyimpan
sekitar 28 gigaton karbon, jumlah yang sangat besar untuk satu negara. Setiap
helai daun mati yang terperangkap di dalamnya berhasil “mengunci” gas
karbondioksida agar tidak terlepas mengotori atmosfer kita.
Sayangnya, pemandangan asri dan peran vital sang spons
raksasa ini mulai terancam oleh serangkaian saluran kanal buatan manusia.
Kanal-kanal tersebut menguras habis air rawa, membuat lapisan gambut yang
semula basah kuyup menjadi kering dan rapuh.
Hoyt et al. (2020), melalui pemetaan satelit resolusi tinggi
atas lebih dari 2,7 juta hektare gambut Asia Tenggara, menemukan bahwa lebih
dari 90 persen area yang disurvei terus mengalami penurunan permukaan tanah (subsidence).
Hal ini menjadi bukti nyata bahwa gambut yang terdegradasi
akibat pengeringan secara konstan melepaskan emisi karbon masif ke udara.
Tragedi terburuk terjadi ketika api menyengat lapisan tanah
yang telah mengering akibat drainase kanal tersebut pada musim kemarau. Gambut
kering seperti tumpukan batu bata bahan bakar yang siap menyulut bencana
kebakaran besar di bawah permukaan tanah.
Kiely et al. (2019) mencatat bahwa pembakaran gambut
menyumbang sekitar 71% dari total emisi partikulat (PM2.5) kebakaran
di Indonesia pada 2015 jauh lebih tinggi daripada yang tercatat dalam
inventarisasi emisi tahun sebelumnya, dan menjadi salah satu penyebab utama
krisis kabut asap lintas batas negara.
Kini, para ilmuwan dan masyarakat lokal bergandengan tangan
untuk menyembuhkan luka rawa gambut melalui teknik pembasahan kembali (rewetting).
Dengan menutup kanal-kanal buatan, air rawa perlahan naik kembali,
mengembalikan fungsi kelembaban alami tanah dan mematikan potensi api.
Kiely et al. (2021) membuktikan bahwa manfaat restorasi
gambut Indonesia jauh melampaui biayanya, kebakaran gambut tahun 2015 saja
menimbulkan kerugian ekonomi hingga US$28 miliar, sementara program restorasi
yang lebih ambisius diperkirakan dapat menghemat miliaran dolar sekaligus
menekan emisi karbon ( C ) dan dampak kesehatan masyarakat secara signifikan.
Perjalanan menyelamatkan rawa gambut pada hakikatnya adalah
perjalanan merawat benteng pertahanan iklim masa depan kita bersama.
Dengan menjaga spons raksasa ini tetap basah dan
terlindungi, kita telah memastikan bahwa bumi tetap menjadi rumah yang nyaman.
Sebab, pada setiap jengkal tanah gambut yang lestari, terikat janji keselamatan
bagi nafas kehidupan anak cucu kita kelak.
Daftar Pustaka
Hoyt, A. M., Chaussard,
E., Seppalainen, S. S., & Harvey, C. F. (2020). Widespread subsidence and
carbon emissions across Southeast Asian peatlands. Nature Geoscience, 13(6),
435–440.
https://doi.org/10.1038/s41561-020-0575-4
Kiely, L., Spracklen, D.
V., Wiedinmyer, C., Conibear, L., Reddington, C. L., Archer-Nicholls, S., Lowe,
D., Arnold, S. R., Knote, C., Khan, M. F., Latif, M. T., Kuwata, M.,
Budisulistiorini, S. H., & Syaufina, L. (2019). New estimate of particulate
emissions from Indonesian peat fires in 2015. Atmospheric Chemistry and
Physics, 19, 11105–11121.
https://doi.org/10.5194/acp-19-11105-2019
Kiely, L., Spracklen, D.
V., Arnold, S. R., Papargyropoulou, E., Conibear, L., Wiedinmyer, C., Knote,
C., & Adrianto, H. A. (2021). Assessing costs of Indonesian fires and the
benefits of restoring peatland. Nature Communications, 12, 7044.
https://doi.org/10.1038/s41467-021-27353-x
Page, S. E., Rieley, J.
O., & Banks, C. J. (2011). Global and regional importance of the tropical
peatland carbon pool. Global Change Biology, 17(2), 798–818.
https://doi.org/10.1111/j.1365-2486.2010.02279.x
Warren, M., Hergoualc'h,
K., Kauffman, J. B., Murdiyarso, D., & Kolka, R. (2017). An appraisal of
Indonesia's immense peat carbon stock using national peatland maps:
uncertainties and potential losses from conversion. Carbon Balance and
Management, 12, 11.
https://doi.org/10.1186/s13021-017-0080-2
Wösten, J. H. M.,
Clymans, E., Page, S. E., Rieley, J. O., & Limin, S. H. (2008). Peat–water
interrelationships in a tropical peatland ecosystem in Southeast Asia. Catena,
73(2), 212–224.
https://doi.org/10.1016/j.catena.2007.07.010

