Bagi sebagian besar masyarakat yang tinggal di Jawa, Bali, hingga Nusa Tenggara, musim kemarau kerap diidentikkan dengan teriknya sengatan matahari dan debu yang beterbangan di siang hari. Namun, ada sebuah paradoks menarik yang terjadi menjelang subuh: udara justru terasa menusuk tulang. Fenomena suhu dingin ekstrem di tengah musim kemarau ini secara lokal dikenal dengan istilah bediding. Lantas, mengapa periode yang seharusnya panas ini justru menghadirkan pagi hari yang menggigil?
Jawabannya terletak pada dinamika atmosfer global dan mekanisme radiasi
bumi yang bekerja secara unik selama bulan-bulan kemarau.
Karpet
Merah dari Benua Selatan
Penyebab utama dari fenomena ini adalah pergerakan angin sistemik yang
dikenal sebagai Angin Muson Timur. Ketika Indonesia memasuki periode musim
kemarau. Biasanya berlangsung dari Mei hingga September.
Belahan bumi selatan, khususnya Benua Australia, justru sedang berada
pada puncak musim dingin (Aldrian & Susanto, 2003). Australia yang
didominasi area gurun mengalami penurunan suhu yang sangat signifikan pada
periode tersebut.
Akibat adanya perbedaan tekanan udara tinggi di Australia dan tekanan
rendah di belahan bumi utara, massa udara yang bersifat dingin, kering, dan
stabil bertiup melewati Samudra Hindia dan menerpa wilayah Indonesia bagian
selatan (ANTARA News, 2025). Angin dingin inilah yang membawa “pola napas”
musim dingin Australia ke wilayah Nusantara.
Terlepasnya
“Selimut” Bumi
Faktor kedua yang tidak kalah krusial adalah mekanisme pelepasan energi
panas bumi yang dikenal sebagai radiative cooling atau pendinginan
radiatif (Tjasyono, 2004). Pada siang hari, permukaan bumi menyerap energi
radiasi gelombang pendek dari matahari dengan suhunya yang sangat tinggi.
Ketika malam tiba, bumi memancarkan kembali energi tersebut ke atmosfer,
namun dalam bentuk yang berbeda: radiasi gelombang panjang (inframerah). Ini
terjadi karena bumi jauh lebih “dingin” dibandingkan matahari, sehingga puncak
radiasi yang dipancarkannya bergeser ke panjang gelombang yang lebih panjang.
Di musim hujan, awan bertindak seperti selimut tebal yang memantulkan
kembali radiasi panas tersebut ke permukaan bumi, sehingga suhu malam hari
terasa tetap hangat atau gerah.
Sebaliknya, pada musim kemarau, langit cenderung bersih tanpa tutupan
awan (clear sky). Tanpa adanya “selimut” awan ini, panas yang diserap
bumi pada siang hari bebas meloloskan diri ke angkasa luar secara maksimal
sepanjang malam.
Proses pelepasan energi secara terus-menerus ini mencapai puncaknya pada
dini hari menjelang matahari terbit. Akibatnya, suhu permukaan bumi merosot
tajam pada waktu subuh, menciptakan kontras suhu yang sangat drastis antara
siang dan pagi hari.
Peran
Kelembapan dan Ketinggian Wilayah
Selain faktor angin dan tutupan awan, tingkat kelembapan udara yang
sangat rendah di musim kemarau turut mempercepat penurunan suhu. Udara kering
memiliki kapasitas kalor yang rendah, artinya udara tersebut sangat cepat
menyerap panas tetapi juga sangat cepat kehilangan panas jika dibandingkan
dengan udara lembap yang kaya uap air (Ahrens & Henson, 2022).
Fenomena bediding ini dampaknya teramplifikasi berkali-kali lipat di
kawasan dataran tinggi atau pegunungan, seperti Dataran Tinggi Dieng, Bromo,
atau Pegunungan Tengger. Menurut hukum gradien geotermis, suhu udara akan turun
secara alami seiring bertambahnya ketinggian (Tjasyono, 2004).
Fenomena dinginnya pagi hari di musim kemarau bukanlah fenomena mistis
atau anomali yang berbahaya, melainkan hasil interaksi harmonis antara
sirkulasi angin muson global, ketiadaan tutupan awan, dan sifat fisika udara
kering.
Bediding menjadi pengingat unik betapa iklim Indonesia sangat terhubung
erat dengan kondisi cuaca di belahan bumi lainnya.
Fenomena ini kemungkinan akan semakin sering terlihat dalam beberapa
pekan ke depan. BMKG memperkirakan puncak musim kemarau tahun ini baru akan
terjadi pada Agustus, dengan kondisi kering yang berlanjut hingga September
2026.
Menghadapi fenomena bediding, keluarga disarankan untuk menjaga
kehangatan di dalam rumah dengan cara menutup rapat celah udara, menggunakan
gorden tebal, dan mengenakan pakaian berlapis terutama pada malam hingga pagi
hari. Selain itu, pastikan seluruh anggota keluarga mengonsumsi makanan dan
minuman hangat serta menjaga daya tahan tubuh untuk mencegah gangguan kesehatan
akibat perubahan suhu drastis.
Daftar Pustaka
Ahrens,
C. D., & Henson, R. (2022). Meteorology today: An introduction to weather,
climate, and the environment (13th ed.). Cengage Learning. https://www.cengage.com/c/meteorology-today-an-introduction-to-weather-climate-and-the-environment-13e-ahrens-henson/9780357452073/
Aldrian,
E., & Susanto, R. D. (2003). Identification of three dominant rainfall
regions within Indonesia and their relationship to sea surface temperature.
International Journal of Climatology, 23(12), 1435–1452. https://doi.org/10.1002/joc.950
ANTARA
News. (2025, 2 Juli). BMKG: Monsun Australia picu kemarau, suhu dingin, dan
hujan lebat. https://www.antaranews.com/berita/4938601/bmkg-monsun-australia-picu-kemarau-suhu-dingin-dan-hujan-lebat
Tjasyono,
H. K. (2004). Klimatologi (2nd ed.). Penerbit ITB. https://www.itbpress.itb.ac.id/shop/klimatologi/
Silahkan berikan komentar apa yang ingin kamu ketahui di lingkungan sekitar?


