Penulis: Tyas Prabawati, Angkatan 51 Institut Pertanian Bogor
Cacar air (Varicella) kerap
datang tanpa diundang dengan gejala:demam ringan, rasa gatal, serta ruam dan
vesikel (gelembung berisi cairan) yang menyebar di sekujur tubuh. Penyakit yang
disebabkan oleh virus Varicella Zoster ini sangat mudah menular, baik
melalui droplet saluran pernapasan maupun kontak langsung dengan cairan
vesikel, dan anak-anak usia belia menjadi kelompok yang paling rentan.
Di balik ketidaknyamanan yang
dirasakan penderita, tersimpan kisah menarik tentang bagaimana berbagai
masyarakat merespons dan mengobati penyakit ini dengan caranya sendiri.
Memandang Penyakit dari Kaca
Mata Antropologi Kesehatan
Perspektif antropologi kesehata,
cara sebuah komunitas memahami dan menangani penyakit merupakan bagian dari ethnomedicine,
yakni sistem pengobatan lokal yang tumbuh dari interaksi sosial budaya dengan
lingkungan sekitarnya. Pada masyarakat Minanga di Kabupaten Tana Toraja
misalnya, cacar air dikenal dengan istilah lokal puru.
Saat seorang anak terserang puru,
orang tua setempat memadukan pemahaman tentang kebersihan lingkungan dengan
pemanfaatan bahan alami, salah satunya kencur, sebagai warisan pengobatan yang
diwariskan turun-temurun karena dipercaya aman dan minim efek samping (Tiana et
al., 2023).
Kearifan Lokal Daun Gambir di
Kapuas Hulu
Praktik serupa juga ditemukan di
pedalaman Kalimantan Barat, tepatnya Desa Seluan, Kabupaten Kapuas Hulu.
Masyarakat setempat memanfaatkan daun tanaman gambir (Uncaria gambir Roxb.),
yang mereka sebut daun Gamih, sebagai obat luar untuk cacar air (Supraningsih
et al., 2024). Pengolahannya sederhana namun sarat kearifan lokal:
- Persiapan bahan: daun gambir tua dipetik dari
hutan alami atau hasil budidaya sekitar.
- Perebusan: daun direbus bersama sekitar 4
liter air hingga air berubah warna kecokelatan seperti air teh.
- Pendinginan dan penggunaan: air rebusan
didiamkan sekitar 30 menit hingga dingin, lalu digunakan untuk mandi atau
disiramkan perlahan ke bagian tubuh yang terkena ruam (Supraningsih et
al., 2024).
Menurut catatan masyarakat
setempat, terapi mandi air rebusan daun gambir membantu mengeringkan ruam dan
mempercepat penyembuhan cacar air dari luar dalam waktu sekitar 7–10 hari tanpa
efek samping berarti (Supraningsih et al., 2024).
Tradisi pengobatan cacar berbasis
tumbuhan semacam ini juga ditemukan di daerah lain, seperti yang tercatat dalam
naskah Lontar Usada Kacacar di Bali (Sutrisna et al., 2019). Dalam temuan itu terdapat resep penanganan selama mengalami
sakit cacar sesuai gejala atau ciri fisik yang dialami.
Menjelaskan Tradisi Secara
Ilmiah
Mengapa ramuan tradisional seperti
daun gambir dapat membantu meredakan cacar air? Secara farmakologis, gambir
mengandung senyawa aktif yang kaya seperti katekin (7–33%), asam kateku tanat,
kuersetin, dan flavonoid lain (Supraningsih et al., 2024). Senyawa-senyawa ini
dikenal memiliki sifat antiseptik alami, antioksidan, dan antiinflamasi.
Saat air rebusannya disiramkan ke
kulit, sifat antiseptik dan astringen gambir membantu meredakan gatal,
mengurangi peradangan pada vesikel, serta mencegah infeksi sekunder akibat
bakteri pada luka cacar.
Secara medis, cacar air tergolong self-limiting
disease, yaitu penyakit yang dapat sembuh dengan sendirinya seiring terbentuknya
antibodi tubuh terhadap virus Varicella Zoster. Setelah sembuh, tubuh umumnya
membentuk imunitas jangka panjang sehingga jarang terserang penyakit yang sama
di kemudian hari.
Memadukan Medis Modern dan
Kearifan Lokal
Meski pengobatan tradisional dapat
meredakan gejala dari luar, pencegahan primer tetap menjadi pilar utama dalam
dunia medis, meliputi:
- Vaksinasi, yang terbukti efektif mencegah
infeksi atau mengurangi keparahan gejala;
- Menjaga kebersihan diri, seperti memotong kuku
anak agar tidak melukai kulit saat menggaruk, rajin mencuci tangan, dan
mengenakan pakaian bersih;
- Pencegahan penularan, dengan mengisolasi
sementara penderita dari anak-anak lain yang belum pernah terkena cacar
air.
Perpaduan antara pengetahuan medis
modern (vaksinasi dan higiene) dan kearifan lokal pemanfaatan tumbuhan obat
seperti gambir atau kencur menunjukkan bahwa proses penyembuhan tidak melulu
bersumber dari obat-obatan sintetis pabrikan.
Warisan pengetahuan lokal (indigenous
knowledge) ini menjadi pijakan berharga bagi pengembangan keilmuan farmasi
modern di masa depan.
Daftar Pustaka
Supraningsih, A., Maria,
A., Hendra, L., & Gandasari, A. (2024). Kearifan Lokal Pemanfaatan Gambir
dalam Pengobatan Tradisional pada Masyarakat Desa Seluan. JPPM: Jurnal
Pelayanan dan Pemberdayaan Masyarakat, 3(1), 11–23.
Sutrisna, I. N. G. T.,
Widyastuti, N. L. G., & Cahyadi, K. D. (2019). Kajian Pengobatan
Tradisional Cacar Menurut Terjemahan Lontar Usada Kacacar. Jurnal Riset
Kefarmasian Indonesia, 1(1), 41–55. https://jurnalfarmasi.or.id/index.php/jrki/article/view/12/11
Tiana, M., Nurdin, A.,
Fitria, U., Dinen, K. A., & Kurnia, R. (2023). Perspektif Antropologi
Kesehatan: Pengobatan Tradisional Cacat Air pada Anak di Minanga Kabupaten Tana
Toraja. Public Health Journal, 1(1), 443–451.
Silahkan berikan pertanyaan atau request topik pembahasan pada kolom komentar!


