Dehidrasi di musim kemarau bukan sekadar persoalan kebiasaan
minum air yang kurang, melainkan gejala dari interaksi kompleks antara manusia
dan perubahan kondisi ekologis di sekitarnya. Tubuh kita adalah bagian dari
ekosistem. Ketika ekosistem mengalami tekanan dari lingkungan berupa suhu
meningkat, kelembapan menurun, dan sumber air mengering dapat berdampak
langsung pada fisiologi manusia.
Dehidrasi sebagai Cerminan Ketimpangan Ekologis
Dari sudut pandang lingkungan, musim kemarau bukan lagi fenomena alami yang berjalan sesuai siklus lamanya. BMKG memprediksi bahwa musim kemarau 2026 datang lebih awal di 46,5% zona musim (ZOM) Indonesia, dengan durasi yang lebih panjang dari normal di 57,2% wilayah, dan sifat curah hujan yang lebih kering dari biasanya (bawah normal) di 64,5% ZOM.
Kondisi ini dipicu oleh potensi berkembangnya El Niño pada semester kedua tahun ini
(BMKG, 2026a; BMKG, 2026b). Hal ini berarti
tubuh manusia harus bekerja lebih keras untuk mempertahankan keseimbangan
cairan dalam rentang waktu yang lebih panjang setiap tahunnya.
Dampaknya sudah terasa secara global. Laporan Lancet
Countdown 2025 mencatat rata-rata orang di dunia terpapar 16 hari cuaca panas
berbahaya pada 2024 yang tidak akan terjadi tanpa perubahan iklim, dengan bayi
dan lansia mengalami lebih dari 20 hari gelombang panas per orang. (WHO, 2025a). Laporan
yang sama mencatat kekeringan dan gelombang panas berkontribusi pada tambahan
124 juta orang yang mengalami kerawanan pangan sedang hingga berat pada 2023
(WHO, 2025a).
Fenomena Urban Heat Island dan Krisis Air Mikro
Salah satu hal yang sering luput dari perhatian adalah bagaimana tata ruang kota memperparah risiko dehidrasi. Kawasan perkotaan dengan sedikit ruang hijau dan didominasi beton serta aspal mengalami fenomena urban heat island (UHI), yaitu suhu udara yang jauh lebih tinggi dibandingkan wilayah bervegetasi di sekitarnya.
Penelitian di wilayah Jabodetabek
menunjukkan adanya peningkatan nilai suhu permukaan minimum sejak tahun 2004
hingga 2023 (Rizki dkk., 2024, dalam Hotimah dkk., 2025). Salah satu penyebab
utamanya adalah minimnya ruang terbuka hijau (RTH): DKI Jakarta misalnya hanya
memiliki RTH sekitar 9,98% dari total luas kota, jauh di bawah standar minimal
30% yang diamanatkan undang-undang tata ruang (Infraindo, 2024).
Penduduk yang tinggal atau bekerja di kawasan minim vegetasi
ini kehilangan cairan tubuh jauh lebih cepat akibat suhu ambien yang lebih
tinggi, sementara akses mereka terhadap air minum bersih dan tempat berteduh
sering kali justru lebih terbatas. Ini menunjukkan bahwa dehidrasi bukan semata
masalah individu yang lupa minum air, melainkan juga persoalan keadilan
lingkungan (environmental justice). Siapa yang menanggung beban paling
berat dari perubahan iklim dan buruknya perencanaan tata kota.
Tekanan pada Sumber Air Bersih
Musim kemarau yang berkepanjangan juga menekan ketersediaan
air bersih itu sendiri. Saat tubuh manusia sedang membutuhkan cairan lebih
banyak akibat suhu tinggi, akses terhadap air bersih dan aman justru semakin
sulit di beberapa wilayah. BMKG sendiri telah mengingatkan pentingnya
revitalisasi waduk dan perbaikan jaringan distribusi air menjelang musim
kemarau 2026 yang diproyeksikan lebih kering dan panjang dari biasanya (BMKG,
2026c).
Vegetasi sebagai Penyangga Alami
Pentingnya tutupan vegetasi sebagai penyangga iklim mikro.
Vegetasi membantu menurunkan suhu melalui proses evapotranspirasi dan naungan
alami, sekaligus menjaga kelembapan udara agar tidak turun terlalu drastis
(Hotimah dkk., 2025). Studi di Adelaide-Australia, menunjukkan bahwa
menutupi 30% luas atap dengan atap hijau (green roof) mampu menurunkan
suhu permukaan atap sebesar 0,06°C pada musim panas (Razzaghmanesh dkk., 2016,
dalam Utami, 2021). Temuan itu sebagai bukti bahwa intervensi vegetasi berskala
kecil pun memberi efek pendinginan yang terukur.
Dengan kata lain, menjaga ruang hijau bukan hanya soal
estetika atau konservasi keanekaragaman hayati, tetapi juga strategi mitigasi
kesehatan masyarakat yang nyata terhadap risiko dehidrasi dan tekanan panas.
Apa yang Bisa Dilakukan? Skala rumah tangga dan pribadi
Berikut opsi konkret yang bisa langsung diterapkan di tingkat
rumah tangga atau individu:
Menanam vegetasi di pekarangan atau menerapkan konsep rumah hijau. Mengacu pada temuan bahwa penambahan luas RTH secara terukur menurunkan suhu mikro dengan menanam pohon peneduh, tanaman rambat di dinding, atau membuat taman vertikal di rumah dapat menurunkan suhu di sekitar hunian, sehingga mengurangi laju penguapan keringat penghuninya.
Mengurangi area perkerasan (semenisasi) pekarangan. Mengganti sebagian area beton atau paving di halaman dengan rumput atau area resapan membantu menjaga kelembapan tanah dan mengurangi efek panas lokal yang sama dengan yang terjadi pada skala kota akibat urban heat island (Hotimah dkk., 2025).
Menghemat dan mengelola konsumsi air secara sadar. Memperbaiki kebocoran pipa, menggunakan kembali air bekas cucian (greywater) untuk menyiram tanaman, dan memasang aerator hemat air pada keran adalah langkah sederhana yang berdampak signifikan ketika dikalikan jutaan rumah tangga di tengah kondisi 7,36% rumah tangga Indonesia yang masih kekurangan akses air layak (BPS, 2024).
Menjaga hidrasi diri secara terjadwal. Sejalan dengan temuan bahwa produktivitas pekerja menurun 2–3% setiap kenaikan satu derajat suhu di atas 20°C (WHO/WMO, 2025). Individu yang beraktivitas di luar ruangan disarankan minum air secara berkala sepanjang hari, tidak menunggu rasa haus muncul, serta membawa botol minum sendiri untuk memastikan asupan cairan tetap terjaga.
Memantau kualitas air minum di rumah, mengingat temuan Kemenkes bahwa hampir 70% sampel air minum rumah tangga terkontaminasi E. coli (dalam Independen, 2025). Merebus air hingga mendidih atau menggunakan alat penyaring yang teruji dapat mengurangi risiko penyakit bawaan.
Menanam tanaman berkadar air tinggi di pekarangan sendiri, seperti mentimun atau semangka, sebagai sumber tambahan cairan sekaligus edukasi keluarga tentang pentingnya konsumsi pangan segar di tengah cuaca kering.
Krisis iklim yang memperparah kondisi cuaca ekstrem,
kerusakan ekosistem yang mengurangi kapasitas alam menyangga suhu dan
kelembapan, serta ketimpangan akses terhadap sumber daya air yang semakin
nyata. Namun, sebagaimana data-data di atas menunjukkan, jarak antara krisis
skala global dan solusi skala rumah tangga sesungguhnya tidak sejauh yang
dibayangkan. Setiap penampung air hujan, setiap pohon yang ditanam di
pekarangan, dan setiap keran yang diperbaiki adalah kontribusi nyata terhadap
ketahanan iklim mikro di sekitar kita.
Daftar Pustaka
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
(2026a). Prediksi Musim Kemarau Tahun 2026 di Indonesia (Pemutakhiran Juni
2026). https://www.bmkg.go.id/iklim/prediksi-musim/prediksi-musim-kemarau-tahun-2026-di-indonesia-pemutakhiran-juni-2026
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
(2026b). BMKG: Musim Kemarau 2026 Datang Lebih Awal, Puncak Terjadi Agustus
Mendatang [Siaran Pers, 4 Maret 2026]. https://www.bmkg.go.id/siaran-pers/bmkg-musim-kemarau-2026-datang-lebih-awal-puncak-terjadi-agustus-mendatang
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
(2026c). Perkembangan Musim Kemarau dan Prediksi El Nino tahun 2026: Kemarau
Lebih Kering dan Panjang, BMKG Tekankan Pentingnya Antisipasi [Berita
Utama, 5 April 2026]. https://www.bmkg.go.id/berita/utama/perkembangan-musim-kemarau-dan-prediksi-el-nino-tahun-2026-kemarau-lebih-kering-dan-panjang-bmkg-tekankan-pentingnya-antisipasi
Badan Pusat Statistik (BPS). (2024). Indikator
Perumahan dan Lingkungan 2024. Dikutip dalam pangannews.id, BPS Ungkap
7,36 Persen Rumah Tangga Belum Nikmati Akses Air Minum Layak. https://pangannews.id/berita/1735964563/bps-ungkap-736-persen-rumah-tangga-belum-nikmati-akses-air-minum-layak
Hotimah, O., dkk. (2025). Fenomena Urban Heat Island
dalam Perspektif Geografi Regional: Studi Perbandingan Jakarta dan Kuala
Lumpur. Geodika: Jurnal Kajian Ilmu dan Pendidikan Geografi, 9(2),
128–138. https://www.researchgate.net/publication/396673841
Independen. (2025). Berapa Juta Orang Indonesia
Belum Terjangkau Air Bersih?. https://independen.id/berapa-juta-orang-indonesia-belum-terjangkau-air-bersih
Infraindo. (2024). Tantangan dan Solusi untuk Masa
Depan terkait Urban Heat Island di Kota Jakarta. https://www.infraindo.org/post/tantangan-dan-solusi-untuk-masa-depan-terkait-urban-heat-island-di-kota-jakarta
Utami, N. P. (2021). Resolusi Kota Hijau sebagai
Mitigasi Urban Heat Island di Jakarta. Kaleka, Medium. https://medium.com/inobu/resolusi-kota-hijau-sebagai-mitigasi-urban-heat-island-di-jakarta-b84a89ed5d84
World Health Organization (WHO). (2025a). Climate
Inaction Is Claiming Millions of Lives Every Year, Warns New Lancet Countdown
Report. https://www.who.int/news/item/29-10-2025-climate-inaction-is-claiming-millions-of-lives-every-year--warns-new-lancet-countdown-report
World Health Organization (WHO) & World
Meteorological Organization (WMO). (2025). WHO, WMO Issue New Report and
Guidance to Protect Workers from Increasing Heat Stress. https://www.who.int/news/item/22-08-2025-who-wmo-issue-new-report-and-guidance-to-protect-workers-from-increasing-heat-stress


