Ancaman Tak Terlihat: Mengapa Debu Halus Jauh Lebih Mematikan?

Jilid Tylingtar
0

 


Selama ini, ketika membahas polusi udara seringkali tertuju pada asap hitam pekat yang mengepul dari knalpot kendaraan atau cerobong pabrik. Padahal, ancaman yang sesungguhnya paling berbahaya bagi tubuh kita justru yang tidak dapat dilihat oleh mata telanjang. Ilmuwan menyebutnya Particulate Matter (PM), campuran partikel padat dan tetesan cairan yang melayang bebas di udara yang kita hirup setiap hari.

Di antara semua jenisnya, PM2.5 merupakan partikel yang paling banyak jadi perhatian. Diameternya kurang dari 2,5 mikrometer, yang hanya dilihat dengan mikroskop. Kecil sekali, tapi justru itulah yang membuatnya berbahaya: ukuran mininya memberi partikel ini kemampuan menyusup jauh ke dalam tubuh.

 

Ketika Tubuh Kita Gagal Menyaringnya

 

PM2.5 dapat mengancam tubuh kita. Debu berukuran besar biasanya langsung ditangkap oleh bulu hidung dan lendir di saluran pernapasan atas, lalu dikeluarkan lagi lewat batuk atau bersin. Tapi, PM2.5 yang telah masuk terus meluncur ke dalam paru-paru sampai mencapai alveolus. Alveolus adalah kantung-kantung udara kecil tempat oksigen bertukar dengan darah kita. Di titik inilah bahaya dimulai. Partikel-partikel superkecil ini mampu menembus ke aliran darah, lalu ikut beredar ke seluruh tubuh termasuk ke organ-organ vital seperti jantung dan otak.

 

Beban bagi Jantung

 

Berbagai riset global terbaru terus membuktikannya secara konsisten. Paparan PM2.5 dalam jangka panjang terbukti berkaitan erat dengan meningkatnya angka kematian akibat penyakit kardiovaskular secara umum (Chen & Hoek, 2020). PM2.5 yang telah masuk ke pembuluh darah dan menumpuk dapat memicu stres oksidatif dan peradangan kronis yang mempercepat pembentukan plak, atau yang dikenal sebagai aterosklerosis (Münzel et al., 2018).


Sampai Menembus ke Otak

 

Hal yang membuat semakin mengkhawatirkan, jangkauan PM2.5 ternyata tidak berhenti di jantung. Partikel mikro ini cukup kecil untuk menembus sawar darah otak, lapisan pelindung ketat yang seharusnya menjaga otak tetap steril dari benda asing. Begitu berhasil masuk, PM2.5 memicu peradangan saraf atau neuroinflamasi yang merusak sel-sel neuron, mempercepat penurunan fungsi kognitif, dan meningkatkan risiko penyakit neurodegeneratif seperti Alzheimer dan Parkinson (Block & Calderón-Garcidueñas, 2009).

Temuan ini juga didukung oleh studi longitudinal berskala besar yang menunjukkan bahwa lansia yang tinggal di wilayah dengan polusi PM2.5 tinggi mengalami penurunan daya ingat dan fungsi eksekutif otak jauh lebih cepat dibanding mereka yang menghirup udara yang lebih bersih (Weuve et al., 2012).

  

Jadi, Apa yang Bisa Kita Lakukan?

 

Dengan tumpukan bukti ilmiah sebanyak ini, rasanya jelas bahwa dampak PM2.5 bersifat kumulatif dan permanen, sehingga melindungi diri bukan lagi pilihan, melainkan KEHARUSAN.

 

Bagaimana dengan Tanaman? Bisa Membantu, Tapi Jangan Salah Kaprah

 

Banyak yang percaya, cukup taruh beberapa pot lidah mertua atau sirih gading di sudut ruangan, udara di rumah otomatis jadi bersih dari PM2.5. Sayangnya, ini salah kaprah yang cukup umum. Studi NASA yang sering dikutip soal “tanaman pembersih udara” sebenarnya meneliti kemampuan tanaman menyerap senyawa organik volatil atau volatile organic compounds (VOC) seperti formaldehida dan benzena di ruang tertutup skala laboratorium, bukan partikel PM2.5 (Wolverton et al., 1989). Belakangan, klaim ini pun dikaji ulang: sebuah tinjauan sistematis terhadap 12 studi ruang tertutup menemukan bahwa untuk menyamai kemampuan pertukaran udara alami sebuah ruangan saja, dibutuhkan sekitar 10 hingga 1.000 pot tanaman per meter persegi luas lantai—jumlah yang jelas tidak realistis untuk rumah tangga biasa (Cummings & Waring, 2020).

 

Berbeda kalau bicara tanaman dalam skala yang lebih besar, di luar ruangandan penelitian dari kampus-kampus di Indonesia sendiri sudah membuktikannya. Studi terhadap pohon mahoni (Swietenia macrophylla) di lingkungan Kampus Terpadu Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta, menemukan bahwa kandungan logam berat terutama timbal (Pb) pada daun mahoni berkorelasi kuat dengan konsentrasi partikulat di udara ambien sekitarnya (korelasi 0,76). Artinya, semakin tinggi polusi udara di suatu titik, semakin banyak pula partikel yang menumpuk di permukaan daun mahoni. Hal ini menegaskan peran pohon ini sebagai penjerap sekaligus bioindikator pencemaran udara perkotaan (Salsabil et al., 2021). Ini sejalan dengan alasan mengapa mahoni banyak ditanam sebagai pohon peneduh di jalur-jalur padat kendaraan di berbagai kota besar Indonesia.

 

Jadi, kalau ditanya “tanaman bisa membantu, nggak?” jawabannya iya, tapi di level yang tepat.

Menanam pohon dan memperbanyak ruang terbuka hijau di lingkungan sekitar adalah investasi jangka panjang yang nyata untuk menurunkan beban partikulat di udara yang kita hirup bersama. Jadi andalan yang tidak tergantikan pohon di luar sana dan butuh waktu bertahun-tahun untuk tumbuh dan bekerja optimal, sementara paru-paru kita menghirup udara setiap detik. Sedangkan, memelihara tanaman hias di rumah tetap ada manfaatnya, bukan untuk menyaring PM2.5, melainkan untuk menyerap senyawa organik volatil dan menenangkan pikiran. Bonus yang juga berharga.

 

Penulis: Tyas Prabawati

 

Daftar Pustaka

 

Block, M. L., & Calderón-Garcidueñas, L. (2009). Air pollution: mechanisms of neuroinflammation and CNS disease. Trends in Neurosciences, 32(9), 507–516. https://doi.org/10.1016/j.tins.2009.05.009

Chen, J., & Hoek, G. (2020). Long-term exposure to PM2.5 and all-cause and cause-specific mortality: A systematic review and meta-analysis. Environment International, 143, 105974. https://doi.org/10.1016/j.envint.2020.105974

Cummings, B. E., & Waring, M. S. (2020). Potted plants do not improve indoor air quality: A review and analysis of reported VOC removal efficiencies. Journal of Exposure Science & Environmental Epidemiology, 30(2), 253–261. https://doi.org/10.1038/s41370-019-0175-9

Münzel, T., Gori, T., Al-Kindi, S., Deanfield, J., Lelieveld, J., Daiber, A., & Rajagopalan, S. (2018). Effects of gaseous and particulate air pollutants on vascular function: A focus on endothelium-dependent vasodilation. European Heart Journal, 39(40), 3611–3621. https://doi.org/10.1093/eurheartj/ehy481

Salsabil, D. S., Rahmawati, S., & Ardhayanti, L. I. (2021). Tanaman mahoni (Swietenia macrophylla) sebagai bioindikator pencemaran udara khususnya logam Pb, Cu, Zn di Universitas Islam Indonesia. Open Science and Technology, 1(2), 217–229. DOI:10.33292/ost.vol1no2.2021.33

Weuve, J., Puett, R. C., Schwartz, J., Yanosky, J. D., Laden, F., & Grodstein, F. (2012). Exposure to particulate air pollution and cognitive decline in older women. Archives of Internal Medicine, 172(3), 219–227. https://doi.org/10.1001/archinternmed.2011.683

Wolverton, B. C., Douglas, W. L., & Bounds, K. (1989). A study of interior landscape plants for indoor air pollution abatement: An interim report (NASA Technical Report). National Aeronautics and Space Administration. A study of interior landscape plants for indoor air pollution abatement : Wolverton, B. C. : Free Download, Borrow, and Streaming : Internet Archive

Posting Komentar

0 Komentar
Posting Komentar (0)