Deteksi Kebakaran Kalimantan: Kolaborasi Satelit Antariksa dan Sensor IoT

Jilid Tylingtar
0

Penulis: Tyas Prabawati,  Angkatan 51 Institut Pertanian Bogor


Pernahkah Anda membayangkan bagaimana petugas pemadam kebakaran bisa menemukan lokasi titik api di tengah lebatnya rimba Kalimantan? Hutan yang sangat luas membuat pengawasan manual menjadi hal yang sulit dilakukan secara menyeluruh tanpa bantuan teknologi.

 

Di sinilah berbagai sistem pengindraan modern hadir bertindak sebagai pemantau cerdas dari luar angkasa hingga ke dalam tanah.

 

Teknik pertama mengandalkan satelit pengindraan jauh yang memindai wilayah Kalimantan secara konstan setiap harinya. Satelit ini memiliki sensor inframerah canggih yang bekerja mirip seperti termometer digital berukuran raksasa dari antariksa. Instrumen seperti MODIS dan VIIRS mampu mendeteksi anomali suhu dan titik panas (hotspot) secara cepat dan mendukung sistem pemantauan seperti SiPongi+ milik Kementerian Kehutanan RI.

 

Namun, sebagaimana dilaporkan NASA (2026), kedua sensor ini kerap kesulitan mendeteksi api yang tertutup asap tebal atau awan, yang terbakar di bawah kanopi hutan, maupun yang membara di bawah permukaan lahan gambut. Bahkan pada kebakaran paling intens sekalipun, jumlah titik panas yang terekam justru bisa menurun karena asap tebal menghalangi pandangan satelit itu sendiri.

 

Sumber foto: https://news.detik.com/foto-news/d-4712393/potret-api-membara-yang-hanguskan-hutan-kalimantan

Seluruh data panas yang ditangkap dari antariksa akan langsung dikirim ke stasiun penerima bumi secara real-time. Data koordinat ini diolah melalui platform pemantauan digital yang dikenal sebagai Sipongi+, yang dikelola oleh Direktorat Pengendalian Kebakaran Hutan, Kementerian Kehutanan Republik Indonesia (2026).

 

Seperti yang dipaparkan Khomarudin et al. (2024), sistem pemantauan digital semacam ini mengintegrasikan data satelit dengan algoritma indeks cuaca kebakaran untuk memperkuat sistem peringatan dini dan memilah tingkat risiko titik panas (hotspot) secara presisi.

 

Namun, pengamatan satelit optik dari angkasa memiliki keterbatasan pada lahan gambut. Kebakaran gambut sering kali terjadi di bawah tanah (underground fire) dengan suhu rendah dan tanpa memunculkan kobaran api besar di permukaan, sehingga sulit terdeteksi oleh sensor optik konvensional.

 

Oleh karena itu, para peneliti dan praktisi memasang jaringan sensor Internet of Things (IoT) yang ditanam langsung melintasi lapisan gambut.

 

Penelitian Cassiophea et al. (2025) di Kelurahan Tahai, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, menunjukkan bahwa sensor IoT semacam ini bekerja mengukur Tinggi Muka Air (TMA) serta kelembapan tanah secara real-time.

 

Saat air gambut surut melewati batas aman, sistem secara otomatis mengirimkan notifikasi peringatan dini kepada masyarakat dan petugas. Data ini menjadi sinyal peringatan dini bahwa lahan gambut sudah sangat rapuh dan rawan terbakar.

 

Sinergi teknologi darat dan udara ini memuncak saat verifikasi lapangan dilakukan oleh tim pemadam kebakaran di lokasi. Petugas lapangan memanfaatkannya dengan menerbangkan drone bermata termal untuk menembus kepekatan asap di koordinat tujuan. Kamera termal pada drone membantu menunjukkan posisi pasti lidah api di bawah tanah agar aksi pemadaman darat maupun udara tepat sasaran.

 

Integrasi satelit antariksa, sistem digital Sipongi+, sensor tanah IoT, dan drone membentuk benteng pertahanan bencana yang modern. Inovasi sains ini membuktikan bagaimana teknologi tingkat tinggi dapat digunakan secara praktis untuk melindungi lingkungan kita. Dengan keandalan sistem deteksi ini, kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan dapat ditangani lebih cepat sebelum meluas.

Daftar Pustaka

Cassiophea, L., Anggraeni, M. E., Handayani, N., Genesa, F. P., Kristianto, N. Y., Syahputra, G. W., & Yustiana, A. (2025). Implementasi teknologi hybrid Internet of Things dan logger dalam pemantauan tinggi muka air sebagai sistem peringatan dini kekeringan lahan gambut di Kelurahan Tahai, Palangka Raya, Kalimantan Tengah. PengabdianMu: Jurnal Ilmiah Pengabdian kepada Masyarakat, 10(12), 2620–2626. https://doi.org/10.33084/pengabdianmu.v10i12.10939

Kementerian Kehutanan Republik Indonesia. (2026). Sipongi+: Sistem Pemantauan Karhutla. Direktorat Pengendalian Kebakaran Hutan, Direktorat Jenderal Penegakan Hukum Kehutanan, Kementerian Kehutanan RI. https://sipongi.gakkum.kehutanan.go.id

Khomarudin, M., Roswintiarti, O., Prasasti, I., Kartika, T., Nugroho, U. C., Aziz, K., & Seran, V. R. (2024). Enhancement of fire danger rating system for a better land/forest fire warning in South Sumatra Province, Indonesia. Proceedings of SPIE, 12977, 129771T. https://doi.org/10.1117/12.3009541

NASA Science. (2026). Peatland fires darken skies in Indonesia. NASA Earth Observatory / Science Mission Directorate. https://science.nasa.gov/missions/aqua/peatland-fires-darken-skies-in-indonesia/

Posting Komentar

0 Komentar
Posting Komentar (0)